SANG KAPTEN “JOS” DI BADAI MERGER BUMN LOGISTIK
SANG KAPTEN “JOS” DI BADAI MERGER BUMN LOGISTIK
Oleh:
Prof. Dr. Ir. Agus Purnomo, M.T.,
FCILT.
(Professor of Supply Chain
Management - Master of Logistics Management Department – Universitas Logistik
Dan Bisnis Internasional – ULBI)
Kapal Besar, Arah
Kabur
Ada yang keliru dalam
cara kita membayangkan solusi logistik nasional. Negara kepulauan terbesar di
dunia ini masih menghadapi disparitas harga yang lebar untuk komoditas yang
sama, selisih antarwilayah bisa lebih dari dua kali lipat, sebagaimana dicatat
Badan Pusat Statistik. Bank Indonesia bahkan menegaskan biaya distribusi
menjadi salah satu sumber tekanan inflasi daerah, sementara World Bank terus
mengingatkan bahwa efisiensi logistik adalah fondasi daya saing negara
kepulauan. Di tengah persoalan yang nyata ini, Danantara memilih langkah besar:
merger BUMN logistik dengan PT Pos Indonesia sebagai jangkar.
Keputusan ini tampak ambisius, tetapi menyisakan pertanyaan mendasar yang belum terjawab: apakah yang diperbaiki adalah sistem, atau hanya struktur? Seperti diingatkan Peter Drucker, “The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence—it is to act with yesterday’s logic.” Di titik inilah kepemimpinan “Sang Kapten Jos” (Dirut baru PT Pos) diuji, bukan sekadar menjalankan konsolidasi, tetapi memastikan arah perubahan tidak terjebak pada logika lama yang diperbesar dalam skala baru.
Fragmentasi yang
Dipertahankan
Masalah logistik
Indonesia sejak awal bukan kekurangan aset, melainkan keterputusan sistem.
Indeks kinerja logistik global yang dirilis World Bank menunjukkan Indonesia
masih tertinggal dalam kualitas layanan dan kompetensi logistik dibanding
negara seperti Tiongkok dan Singapura. Ini bukan soal jumlah pelabuhan atau
armada, tetapi soal konektivitas antar simpul. World Economic Forum
memperkirakan integrasi rantai pasok dapat memangkas biaya logistik hingga
10–15 persen melalui koordinasi dan visibilitas yang lebih baik.
Pengalaman
China Post menunjukkan bahwa konsolidasi hanya efektif ketika diikuti integrasi
sistem dan digitalisasi menyeluruh. Indonesia menghadapi situasi sebaliknya:
banyak entitas berjalan paralel, dengan data, rute, dan sistem yang tidak
saling bicara. Dalam kondisi seperti ini, merger berisiko hanya memperbesar
organisasi tanpa memperbaiki kinerja. Negara bisa memiliki pemain logistik yang
lebih besar, tetapi tetap bekerja dengan cara yang sama—terfragmentasi.
Integrasi yang Belum
Tuntas
Persoalan berikutnya
lebih dalam: kegagalan merger sering kali tidak disebabkan oleh aspek teknis,
melainkan faktor non-teknis. OECD mencatat lebih dari 60 persen merger gagal
karena benturan budaya, tata kelola, dan arah strategi. Indonesia menghadapi risiko
ini secara nyata. BUMN logistik memiliki basis operasi yang sangat beragam, dari
udara, laut, rel, hingga logistik industri dengan standar dan pola kerja yang
berbeda. Tantangan diperberat oleh kesiapan digital. McKinsey & Company
menunjukkan hanya sekitar 30 persen transformasi digital perusahaan yang
benar-benar berhasil secara menyeluruh.
Dalam kondisi seperti ini, platform
seperti GLID yang dikembangkan oleh PT Pos Indonesia memang memberi harapan
sebagai awal integrasi. Namun, pada tahap sekarang, GLID masih berfungsi
sebagai agregator layanan, belum sebagai control tower yang
mengendalikan aliran logistik secara end-to-end. Tanpa loncatan ke integrasi
operasional maka data terpadu, pengambilan keputusan lintas entitas, dan
orkestrasi jaringan—merger hanya akan berhenti pada konsolidasi administratif.
Nilai tidak tercipta, hanya ukuran yang membesar.
Kecepatan yang
Berisiko
Persoalan menjadi
lebih serius ketika waktu dipersempit. Target penyelesaian merger dalam
hitungan bulan menciptakan tekanan yang berpotensi kontraproduktif. McKinsey
& Company mencatat sekitar 70 persen transformasi besar gagal karena
ketidaksiapan implementasi dan eksekusi yang dipaksakan terlalu cepat. Dalam
sektor logistik yang sensitif terhadap waktu, percepatan tanpa fondasi
integrasi berisiko memicu gangguan layanan dan ketidaksinkronan operasi.
Efeknya bisa sistemik: keterlambatan distribusi, biaya meningkat, dan
kepercayaan pasar menurun. Di titik ini, peran pemimpin menjadi krusial. Kapten
tidak cukup menggerakkan kapal; ia harus menentukan ritme perjalanan.
Mempercepat saat sistem siap, dan menahan ketika risiko membesar. Tanpa kendali
tempo, percepatan justru bisa menjadi sumber kegagalan.
Penutup: Arah atau
Sekadar Besar
Merger BUMN logistik
hanya akan bermakna jika diikuti perubahan mendasar pada cara sistem bekerja. Danantara
perlu memutuskan tiga hal secara tegas. Pertama, membangun arsitektur digital
logistik nasional sebagai control tower yang mengintegrasikan data,
kapasitas, dan aliran barang secara real-time. Kedua, menetapkan model bisnis
yang jelas, apakah entitas ini menjadi operator besar atau orkestrator
ekosistem karena keduanya membutuhkan desain yang berbeda. Ketiga, menerapkan
tata kelola berbasis hasil, dengan ukuran kinerja yang langsung mengikat pada
efisiensi biaya dan kualitas layanan. Tanpa tiga keputusan ini, merger hanya
akan menjadi konsolidasi administratif.
🔥 Teaser:
"LET'S JOIN ULBI"
Magister Manajemen Logistik - “Shaping Future Leaders in Global
Logistics”
Learn more by visiting :
https://admission.ulbi.ac.id/s2-magister-manajemen-logistik/
https://ulbi.ac.id/
#Merger BUMN Logistik; #PT Pos Indonesia; #Integrasi Sistem; #Efisiensi Logistik; #Transformasi Digital; #Governance Logistik; #Logistics; #Supply Chain Management; #Rantai Pasok; #ULBIAcademia; #PenaAkademikULBI; #EdukasiULBI; #OpiniAkademik; #ArtikelAkademik; #SEO; #DigitalMarketing
Posting Komentar