STAND-UP COMEDY, MENS REA, DAN LOGISTIK YANG PURA-PURA BODOH

  

STAND-UP COMEDY, MENS REA, DAN LOGISTIK YANG PURA-PURA BODOH

 

 Oleh : 

Prof. Dr. Ir. Agus Purnomo, M.T., FCILT.
(Professor of  Supply Chain Management - Master of Logistics Management Department – Universitas Logistik Dan Bisnis Internasional – ULBI)

 

Ketika Kita Tertawa

Indonesia gemar menertawakan dirinya sendiri. Di panggung stand-up comedy, humor sering menyentil hal yang sebenarnya serius. “Kalau sudah tahu akibatnya, tapi tetap dilakukan, itu lucu atau pidana?” Pertanyaan ini mengundang tawa karena terasa akrab: kemacetan pelabuhan yang berulang, gudang yang terus overload, distribusi pangan yang terlambat meski risikonya sudah lama diketahui. 

Data resmi menunjukkan biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran seperempat produk domestik bruto—jauh di atas banyak negara tetangga—dan beban ini ikut menekan inflasi pangan serta daya saing ekonomi. Ekonom Joseph Stiglitz pernah mengingatkan, “What we choose to ignore is often as important as what we choose to see.” Humor, pada titik ini, berhenti menjadi hiburan. Ia berubah menjadi cermin: apakah inefisiensi supply chain kita semata salah sistem, atau justru hasil dari kebiasaan mengetahui dampaknya namun tetap membiarkannya?

 

Tertawa yang Menyadarkan

Dalam tradisi kritik sosial, humor bekerja paling efektif justru karena ia tidak menggurui. Tawa membuat publik merasa terlibat, bukan dihakimi. Ketika lelucon tentang “sudah tahu tapi tetap dilakukan” disambut luas, publik sebenarnya sedang mengakui pola yang berulang dalam kebijakan dan praktik ekonomi. Satire politik di berbagai negara—dari Amerika Serikat hingga Eropa—kerap menjadi pintu masuk diskusi serius tentang kegagalan tata kelola. 

Di Indonesia, resonansinya kuat karena masalah yang ditertawakan bukan hal baru. Laporan Bank Dunia, dokumen perencanaan nasional, dan kajian akademik telah lama menyoroti mahalnya biaya logistik, rapuhnya distribusi, serta kemacetan pelabuhan yang berulang. Tawa publik menandai kesadaran kolektif: ada sesuatu yang tidak beres, namun dibiarkan. Humor memberi bahasa sederhana untuk menyebutnya—pura-pura bodoh—tanpa harus terjebak istilah teknokratis.

 

Tahu, Tapi Membiarkan

Ketika ditarik dari panggung humor ke meja kebijakan, persoalan logistik Indonesia bukan soal kurang informasi, melainkan kurang keberanian bertindak. Masalahnya sudah didiagnosis berulang kali: biaya logistik nasional tetap tinggi, waktu tunggu kapal di pelabuhan masih kalah bersaing dengan hub regional, distribusi barang lambat, dan first-mile logistics di wilayah produsen mahal. Rekomendasi kebijakan juga bukan barang baru. Namun, masalah yang sama terus muncul seolah menjadi “biaya rutin” yang diterima sebagai keniscayaan. 

Di sinilah konsep mens rea relevan dibaca sebagai metafora kebijakan. Bukan untuk menuduh pidana, melainkan untuk menjelaskan pola knowing but ignoring: risiko dan dampak sudah diketahui, data tersedia, tetapi pembiaran tetap berlangsung. Dalam logika kebijakan publik, ini mencerminkan kegagalan struktural—ketika negara terjebak mengelola masalah, bukan menyelesaikannya.

 

Harga dari Diam

Pembiaran inefisiensi logistik tidak berhenti di grafik atau laporan. Ia berakhir di meja makan dan dompet masyarakat. Inflasi pangan—yang menurut data BPS kerap menjadi penyumbang utama gejolak harga—sangat sensitif terhadap distribusi dan biaya angkut. Bank Indonesia berulang kali mencatat bahwa transportasi dan logistik berperan besar dalam volatilitas harga, terutama di luar Jawa. 

Bagi UMKM dan petani, ongkos logistik yang tinggi menggerus margin dan membatasi akses pasar. Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, ia berarti harga naik lebih cepat daripada daya beli. Di titik ini, logistik bukan lagi isu teknis, melainkan persoalan keadilan ekonomi. Ketika dampak sosialnya sudah jelas, namun perbaikannya terus tertunda, “diam” bukan sikap netral. Ia adalah pilihan kebijakan dengan konsekuensi yang dibayar oleh mereka yang paling rentan.

 

Penutup: Dari Tawa ke Tanggung Jawab

Benang merahnya terang: masalah logistik Indonesia bukan terutama soal teknologi atau kapasitas, melainkan soal pilihan dan tata kelola. Tawa publik yang lahir dari satire seharusnya dibaca sebagai peringatan dini, bukan sekadar hiburan. Pemerintah perlu berhenti mengulang diagnosis dan mulai menutup celah eksekusi: memperbaiki koordinasi lintas kementerian dan daerah, membenahi manajemen pelabuhan dan pergudangan, serta memastikan data supply chain yang sudah tersedia benar-benar dipakai untuk memperbaiki insentif dan menegakkan akuntabilitas. Tanpa itu, inefisiensi akan terus diwariskan sebagai kebiasaan.

Pada akhirnya, humor telah membantu kita menyebut masalah dengan jujur. Pertanyaannya kini lebih serius: sampai kapan kita menertawakan sesuatu yang dampaknya terus dibayar oleh masyarakat paling lemah? Jika akibatnya sudah lama diketahui, membiarkannya berarti menerima konsekuensinya secara sadar. Tawa boleh menjadi awal kesadaran. Tetapi hanya keberanian kebijakan yang bisa mengubahnya menjadi perbaikan nyata.

 Teaser:

Ketika humor menyingkap masalah serius: inefisiensi logistik yang sudah lama diketahui, tapi dibiarkan. Dari panggung komedi ke kebijakan publik, siapa menanggung harga dari diam?

 "LET'S JOIN ULBI"

 Magister Manajemen Logistik - “Shaping Future Leaders in Global Logistics”

 Learn more by visiting : 

https://admission.ulbi.ac.id/s2-magister-manajemen-logistik/

https://ulbi.ac.id/

 #Mens rea; #Logistik nasional; #Supply chain;  #Inflasi pangan; #Tata kelola kebijakan; #Keadilan ekonomi; #Logistics; #Supply Chain Management; #Rantai Pasok; #ULBIAcademia; #PenaAkademikULBI; #EdukasiULBI; #OpiniAkademik; #ArtikelAkademik; #SEO; #DigitalMarketing